Markas Torreense, Estádio Manuel Marques, memiliki kapasitas sekitar 2.431 penonton. Stadion tersebut tidak memenuhi persyaratan UEFA untuk menggelar pertandingan Liga Europa, sehingga laga kandang mereka dipindahkan ke Estádio Dr. Magalhães Pessoa di Leiria, yang berjarak puluhan kilometer dari Torres Vedras.
Situasi ini menjadi tantangan tambahan bagi klub. Selain menghadapi lawan-lawan yang lebih berpengalaman, Torreense juga harus menyesuaikan diri dengan stadion dan atmosfer pertandingan yang berbeda dari laga kandang reguler mereka.
Meski begitu, kesempatan tampil di Liga Europa tetap menjadi pencapaian besar bagi klub dan para pendukungnya.
Bukan pertama kalinya klub Divisi 2 tampil di Eropa
Kisah Torreense memang langka, tetapi bukan satu-satunya dalam sejarah sepak bola Eropa. Sejumlah klub pernah tampil di kompetisi kontinental ketika masih bermain di kasta kedua liga domestik.
Sunderland sendiri pernah menjuarai Piala FA Inggris pada 1973 ketika masih berada di divisi kedua. Mereka kemudian tampil di Piala Winners Eropa musim 1973/1974.
Wigan Athletic juga pernah memenangkan Piala FA pada 2013, lalu bermain di Liga Europa meski pada musim yang sama terdegradasi dari Premier League. Birmingham City mengalami situasi serupa setelah menjuarai Piala Liga Inggris pada 2011.
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa sepak bola memiliki jalur kejutan yang tidak selalu bergantung pada posisi di klasemen liga. Turnamen piala dapat membuka kesempatan bagi klub yang lebih kecil untuk berhadapan dengan tim-tim besar di Eropa.
Torreense kini mengikuti jejak klub-klub tersebut. Mereka mungkin bukan favorit untuk melangkah jauh, tetapi keberhasilan menjuarai Piala Portugal sudah membuat mereka mencatat sejarah.
Kekalahan dari Sunderland juga belum menghapus pencapaian itu. Dengan kemenangan atas Lillestrøm pada laga pembuka, Torreense telah membuktikan bahwa mereka bisa bersaing dan memberi kejutan di panggung Eropa.
Bagi Torreense, Liga Europa musim ini bukan sekadar soal hasil pertandingan. Ini adalah kesempatan langka bagi klub Divisi 2 Portugal untuk menunjukkan bahwa mimpi besar masih mungkin terwujud, bahkan tanpa bermain di kasta tertinggi.