NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan ekspor nikel mencapai US$ 45 miliar atau Rp 805,5 triliun (kurs Rp 17.902) pada 2026. Hal ini seiring dengan kebijakan yang diambil, mulai dari ekspor bijih mentah dan pengembangan ekosistem industri dari hulu ke hilir.

Bahlil mengatakan Indonesia ke depan tidak lagi menjadi negara yang hanya mengekspor bahan baku. Bahlil mengakui beberapa negara yang membutuhkan bahan baku dari Indonesia merasa terganggu dari kebijakan yang diambil.

Ia mencontohkan pada 2017-2018, ekspor nikel kita itu hanya mencapai US$ 3,3 miliar. Usai Indonesia memutuskan untuk menghentikan ekspor ornikel karena ingin membangun industrialisasi, nilai ekspornya naik setiap tahunnya.