NADIKABAR.COM — Transportasi legendaris bajaj kini menghadapi krisis penumpang. Keberadaannya di Jakarta pun kian berkurang. Pada 1999, jumlah bajaj tercatat mencapai 14.612 unit. Kini jumlahnya tersisa sekitar 6.025 unit.
Bajaj harus bersaing dengan transportasi modern yang menawarkan kemudahan, kenyamanan, dan harga yang relatif terjangkau. Sopir bajaj pun harus mengandalkan pelanggan tetap dan mangkal di titik-titik tertentu untuk mendapatkan penumpang.
Salah satunya Muslih. Saat ditemui di Pasar Jembatan Lima, Jakarta, pukul 11.00 WIB, ia mengaku belum mendapatkan pelaris. Menurutnya, peminat bajaj semakin sedikit. Satu penumpang cenderung memilih ojek online, sedangkan dua hingga tiga penumpang lebih memilih taksi atau mobil online.
Bajaj juga sesekali digunakan untuk mengantar barang, termasuk mengangkut ondel-ondel hingga ke luar Jakarta. Namun jasa tersebut kini harus bersaing dengan layanan pengiriman berbasis aplikasi. Kehadiran Jaklingko juga mengubah persaingan transportasi di kawasan permukiman.
Keluhan serupa dirasakan Minta (60). Dengan setoran sewa bajaj Rp 60 ribu per hari, ia harus mencari pemasukan lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun mendapatkan Rp 100 ribu sehari saja kini sulit. Penghasilan itu masih harus dibagi untuk BBM dan makan.
Di bengkel yang dijuluki 'Rumah Sakit Bajaj' di Jalan Makmur, Duri Pulo, Gambir, para montir memperbaiki kerusakan CDI, klep, kelistrikan, hingga bodi keropos. Sekali turun mesin, sopir harus merogoh kocek mulai Rp 1,5 juta.