Bagi Muslih, bajaj pernah menjadi tumpuan untuk menyekolahkan tiga anaknya. Kini ia berharap bisa menabung untuk membuka warung di kampung halaman. Di tengah sepinya penumpang, ia memilih bertahan sambil menanti rezeki di jalanan Jakarta.

Bajaj berdesakan di tengah padatnya kendaraan saat jam pulang kerja di kawasan Asemka, Jakarta menunjukkan keberadaan transportasi legendaris itu yang masih bertahan di sejumlah sudut kota.

Sebuah bajaj membawa ondel-ondel melintas di Jalan Salemba Raya, Jakarta.

Bajaj melintas di gang sempit Jalan Tambora VI, Jakarta Barat. Zaman dulu bajaj menjadi raja kampung dalam urusan moda transportasi, body bajaj yang tak terlalu besar memungkinkan untuk mencari penumpang hingga ke gang sempit.

Muslih (60) mengemudikan bajaj, dengan tarif yang masih ditentukan melalui kesepakatan dan memungkinkan penumpang melakukan tawar-menawar.

Penumpang menaikkan ondel-ondel ke atas bajaj di Jalan Kramat Raya, Jakarta, sebagai gambaran bajaj yang kini tak hanya mengangkut penumpang tetapi juga barang untuk bertahan di tengah persaingan transportasi.