Setiap potret visual yang terekam membantu para peneliti mengurai tanda tanya besar seputar populasi, sebaran wilayah jelajah, hingga ketersediaan mangsa alami yang menopang kehidupan sang predator puncak sekaligus satwa endemik pulau Jawa."Sebagai predator puncak keberadaannya merupakan indikator vital bagi kesehatan hutan yang menjadi penyangga tata air dan keanekaragaman hayati. Melalui pilar Bakti Lingkungan, kami mendukung kajian ilmiah ini guna memastikan setiap langkah intervensi konservasi bertumpu pada data dan kondisi lapangan," ujar dia.

Sepanjang Januari 2024 hingga Agustus 2026 macan tutul jawa terdeteksi di 46 stasiun kamera pengintai atau 58 persen dari seluruh titik pemantauan. Deteksi paling banyak tercatat di kawasan hutan yang relatif terjaga.

Selain mengandalkan tangkapan visual, tim peneliti juga mengumpulkan 44 sampel kotoran (scat) macan tutul untuk pemeriksaan DNA.Field Coordinator Java-Wide Leopard Survey (JWLS) Region Timur Ummi Farikhah mengatakan bahwa survei ini juga menemukan adanya 46 jenis satwa di Bromo Tengger Semeru, dengan 26 jenis di antaranya merupakan satwa mangsa potensial macan tutul."Ketersediaan rantai pakan alami ini menjadi harapan besar bagi kelangsungan hidup macan tutul jawa. Untuk itu perlindungan dan pemulihan habitat, pemantauan populasi secara berkala yang disertai dengan penguatan konektivitas antarhabitat dan kapasitas pengelola kawasan dalam penanganan konflik antara manusia dan macan tutul jawa juga perlu ditingkatkan," ujar dia.