Pengunjung lainnya, Wiwid, juga mengaku selama ini menganggap Balai Kota sebagai area yang tertutup bagi masyarakat.

"Yang kita lihat itu Balai Kota ini selama ini kan kelihatannya tertutup. Kita nggak tahu di dalamnya seperti apa, sering lewat, kita naik TJ gitu. Wah bagus banget Balai Kota. Pas saya lihat di dalamnya ternyata, wah oke," ujarnya.

Sementara itu, Duto melihat Namu Balai Kota bisa menjadi daya tarik baru bagi anak muda. Menurutnya, konsep kegiatan membuat kompleks pemerintahan terasa lebih terbuka dan segar.

"Sekarang dikemas dengan seperti ini lebih anak muda banget, lebih fresh. Terus kayaknya akan jadi tempat, ya mungkin ke depannya akan seru buat nongkrong. Terutama kalau buat sekarang buat Gen Z kali ya, jadi ya seru sih, experience-nya juga menyenangkan," katanya.

Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan konsep Namu Balai Kota memang dirancang agar ruang pemerintahan dapat dikunjungi masyarakat dengan suasana yang lebih terbuka.

"Jadi kita akan buka konsepnya bahwa ruang pemerintahan itu bisa dihadiri, bisa dikunjungi dengan cara yang sangat hangat," ujar Marulina.

Uji coba Namu Balai Kota berlangsung pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Setelah tahap uji coba dan evaluasi, Pemprov DKI mengagendakan program tersebut berlangsung secara berkala setiap dua minggu sekali pada akhir pekan.