"Potensi perang di masa depan bisa berlangsung lebih lama daripada konflik sebelumnya, dan Presiden Amerika tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu atau syarat berakhirnya perang tersebut," tegas juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, seperti dilaporkan televisi pemerintah Iran dan dilansir AFP, Senin (2/11).

Dalam fase paling sengit dari perang yang dimulai pada 28 Februari lalu -- yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran, pasukan Teheran membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap aset-aset militer Washington di seluruh kawasan Timur Tengah.

Kelompok-kelompok milisi yang beraliansi dengan Iran turut terlibat dalam pertempuran itu, termasuk Hizbullah di Lebanon hingga Houthi di Yaman. Sejauh ini, perang yang awalnya diprediksi berlangsung singkat ini masih terus berlanjut, dan memasuki bulan kedelapan, tanpa indikasi akan berakhir dalam waktu dekat.

Beberapa waktu terakhir, para pejabat militer dan politik Iran telah memberikan peringatan terhadap AS dan Israel di tengah potensi serangan terbaru. Peringatan dari Akraminia itu menggemakan peringatan serupa yang sebelumnya disampaikan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

"Jika musuh sekali lagi melancarkan serangan militer atau teroris, maka Angkatan Bersenjata Republik Islam dan bangsa Iran-lah yang akan menentukan waktu dan kondisi untuk mengakhiri serangan tersebut," tegas Khamenei dalam peringatannya yang dilaporkan media pemerintah Iran.

Secara terpisah, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, menegaskan kembali peringatan tertulis dari Mojtaba.

"Dalam konflik dengan Amerika, tidak ada batasan geografis, medan yang luas telah ditetapkan untuk menimbulkan kerugian bagi pihak musuh," tegasnya.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, dalam pernyataannya, mengharapkan agar "pihak lain akan bertindak rasional dan memilih jalur diplomasi". Namun Araghchi juga menambahkan jika Teheran "tetap siap, baik untuk pertahanan maupun diplomasi".