"Indonesia membutuhkan modal, teknologi, mesin, engineering dan pengembangan industri, sementara Jiangxi memiliki kapasitas yang relevan. Di sinilah peluang kerja sama harus diperbesar. Pabrik, joint venture, local sourcing, riset dan pengembangan, serta ekspor kembali ke pasar ASEAN harus menjadi bagian dari agenda bersama. Dengan begitu, investasi akan menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini melihat potensi besar pada sektor mineral strategis dan ekosistem baterai. Indonesia memegang peranan krusial dalam rantai pasok nikel global saat ini. Di sisi lain, Jiangxi memiliki basis manufaktur unggul untuk perakitan komponen kendaraan masa depan.

Sinergi berkelanjutan ini dipastikan harus dibangun secara utuh dari hulu ke hilir. Investasi masa depan juga diwajibkan memenuhi standar ekonomi hijau lewat pemanfaatan energi terbarukan. Ia menegaskan Indonesia selalu terbuka terhadap penanaman modal dari Jiangxi asalkan investasi tersebut terbukti berkualitas.

"Kita membutuhkan investasi yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, melakukan transfer teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, menggunakan pemasok lokal, memperkuat industri nasional dan menjaga lingkungan. Prinsipnya jelas, yakni mutual benefit, rule of law, local value creation, sustainable development dan shared prosperity. Kita ingin investasi yang manfaatnya dirasakan bersama dalam jangka panjang," pungkas Bamsoet.