NADIKABAR.COM — Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Bambang Soesatyo (Bamsoet), menegaskan penguatan ideologi Pancasila harus menjadi salah satu fondasi utama untuk mendukung keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Bamsoet, di tengah persaingan geopolitik, perkembangan teknologi digital, dan derasnya pengaruh ideologi global, Indonesia membutuhkan ketahanan ideologi yang semakin kuat.

Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua DPR RI ke-20 itu mengatakan pemerintah perlu memastikan nilai-nilai Pancasila menjadi pedoman dalam pembangunan untuk menjaga persatuan, memperkuat kedaulatan, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo yang menempatkan penguatan ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia sebagai salah satu prioritas nasional.

"Presiden Prabowo memiliki komitmen kuat menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa. Penguatan Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang diwujudkan melalui kebijakan nyata dan keberpihakan kepada rakyat," ujar Bamsoet usai menghadiri Rapat Pleno V Wantimpres di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Rapat turut dihadiri Ketua Wantimpres Pratikno, Wakil Ketua Hatta Rajasa, Sekretaris M. Qodari, serta sejumlah anggota Wantimpres lainnya di antaranya Sinta Nuriyah Wahid, Quraish Shihab, Agum Gumelar, Said Aqil Siroj, Jusuf Wanandi, Budi Gunawan, Soekarwo, Rocky Gerung, Philip Kuntjoro Widjaja, Budi Santoso Tanuwibowo, Anwar Usman, Margarito Kamis, John Gluba Gebze, Salim Segaf Aljufri, Chairul Tanjung, dan Yahya Cholil Staquf.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menjelaskan Indonesia memiliki kekuatan besar dari keberagaman masyarakatnya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan sekitar 1.340 kelompok suku, Pancasila menjadi perekat persatuan bangsa.

Bamsoet menilai, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari penyebaran disinformasi, polarisasi sosial, hingga masuknya paham ekstrem melalui ruang digital.