NADIKABAR.COM — Imbas paparan abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi sentra ekspor impor sempat ditutup. Supply Chain Indonesia (SCI) mencatat penutupan bandara tersebut membuat arus barang ekspor impor senilai Rp 3,3 triliun mandek.
"Sebaran abu vulkanik dapat memicu penutupan ruang udara, pembatalan atau pengalihan penerbangan, perubahan jadwal, dan penumpukan kargo," ujar Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Setijadi memaparkan pada 2025, nilai ekspor nonmigas melalui Soekarno-Hatta mencapai US$ 9,90 miliar dan impor US$ 20,77 miliar. Nilai indikatif arus perdagangan bruto tersebut mencapai US$ 30,67 miliar setahun atau rata-rata US$ 84,03 juta per hari.
Volume impor mencapai 174,9 ribu ton setahun atau rata-rata 479 ton per hari. Angka tersebut mengacu pada data BPS dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, dengan data ekspor 2025 berstatus revisi.
Setijadi menjelaskan gangguan penerbangan selama delapan jam berpotensi menunda arus ekspor-impor sekitar US$ 28 juta, terdiri atas ekspor US$ 9,04 juta dan impor USD18,97 juta, termasuk hampir 160 ton barang impor.