Ia mengatakan ribuan tenda terendam banjir atau rusak sehingga memaksa keluarga-keluarga pengungsi bertahan di tempat terbuka. Menurut dia, tidak tersedianya alternatif tempat berlindung yang lebih aman disebabkan oleh blokade Israel serta pembatasan terhadap rumah mobil dan bahan-bahan rekonstruksi.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), pada Kamis (5/11), mengatakan bahwa 1,98 juta orang atau sekitar 94 persen dari populasi Gaza membutuhkan tempat berlindung dan pasokan kebutuhan pokok lainnya. Angka tersebut merujuk pada survei yang dilakukan pada Juni.

UNRWA menyebutkan bahwa 58 persen dari mereka menghadapi kebutuhan tempat berlindung pada tingkat kritis atau katastrofik.

Pada Oktober, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa 950.000 warga Palestina tinggal di lokasi-lokasi pengungsian yang menghadapi risiko banjir tingkat sedang hingga tinggi. Lebih dari 400.000 orang berada di kawasan dengan risiko tinggi.

Perang genosida Israel yang dimulai pada Oktober 2023 telah menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur di Gaza. Lebih dari setahun setelah gencatan senjata Oktober 2025 mulai berlaku, kebutuhan tempat berlindung dan rekonstruksi masih jauh melampaui bantuan yang tersedia.

Kondisi ini berlangsung di tengah pembatasan Israel yang terus berlanjut terhadap masuknya bahan-bahan yang diperlukan untuk membangun hunian sementara dan memperbaiki rumah.

Penerjemah: Primayanti