Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur kontraksi menjadi 49,3 pada Agustus 2026, sementara kepercayaan konsumen turun menjadi 116,8 pada Juli 2026.
Bank Dunia juga mencatat peningkatan defisit menimbulkan kekhawatiran terkait perkembangan fiskal dan peringkat utang Indonesia.
Sentimen pasar terhadap Indonesia memburuk pada Januari 2026 dan kemudian diperburuk oleh kenaikan harga minyak global serta gangguan pelayaran. Arus keluar portofolio mencapai 0,2 persen dari PDB pada kuartal I 2026.
"Kekhawatiran bahwa Indonesia akan diturunkan statusnya menjadi frontier market oleh penyedia indeks saham global MSCI—yang dapat memicu penjualan otomatis oleh dana indeks pasif—menyebabkan penurunan tajam nilai rupiah dan indeks saham Jakarta (IHSG)," tulis Bank Dunia dalam laporannya.
Pemerintah kemudian merespons dengan menggunakan cadangan devisa, menerapkan reformasi sektor keuangan, serta menaikkan suku bunga kebijakan bank sentral secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026.
Langkah tersebut membantu menahan dampak pelemahan nilai tukar terhadap inflasi.
Bank Dunia mencatat inflasi turun dari 4,8 persen pada Februari menjadi 3,4 persen pada Juli 2026, antara lain karena subsidi bahan bakar yang menahan kenaikan harga.