Kondisi ini turut menopang ketersediaan likuiditas dalam mendukung penyaluran kredit perusahaan. Hingga akhir September 2026, penghimpunan dana murah (current accounts and saving accounts/CASA) dari giro dan tabungan mencapai Rp2,24 triliun.

Selanjutnya, Bank Sahabat Sampoerna mencatatkan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 31,31 persen, naik dari September 2025 sebesar 29,05 persen.

Adapun rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) 88,82 persen, cukup yakin tetap mampu menyerap permintaan kredit dan mendukung pemberdayaan UMKM.

CEO Bank Sahabat Sampoerna Ali Yong menambahkan bahwa tren positif juga dicatat perseroan atas pertumbuhan transaksi digital perusahaan.

Dengan mengusung layanan berbasis bank as a service (BaaS), Bank Sahabat Sampoerna hingga September 2026 mencatat lebih dari 245 juta transaksi, naik sebesar 140,2 persen dari periode sebelumnya sekitar 102 juta transaksi.

Dari transaksi BaaS ini, Bank Sahabat Sampoerna membukukan pendapatan sebesar Rp150,47 miliar, tumbuh 398,62 persen dari tahun sebelumnya.