Pengembangan layanan preventif tersebut juga dinilai sejalan dengan tujuan program CKG yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Benjamin menyoroti inisiatif Banyuwangi yang telah membangun kebiasaan pemeriksaan kesehatan sejak sebelum program nasional tersebut diluncurkan.

"Program prioritas Presiden, Cek Kesehatan Gratis, baru mulai tahun lalu. Ternyata di Banyuwangi sudah dimulai sejak 2018," ucapnya.

Benjamin juga menyoroti program Jemput Bola Rawat Warga yang memungkinkan petugas kesehatan mendatangi rumah warga untuk memberikan pelayanan secara langsung. Menurutnya, program tersebut menjadi salah satu inovasi Banyuwangi dalam menjangkau masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.

"Saya sudah keliling ke 29 provinsi dan lebih 150 kabupaten kota se-Indonesia. Ini (layanan home care oleh puskesmas) baru pertama kali saya lihat di Banyuwangi," tuturnya.

Apresiasi terhadap kedua inovasi tersebut turut disertai harapan agar praktik pelayanan kesehatan di Banyuwangi dapat diterapkan sebagai inspirasi bagi daerah lain. Benjamin menilai penguatan layanan primer, pencegahan penyakit, dan pemerataan akses menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

Ia juga menyoroti capaian CKG di Banyuwangi yang hingga kini telah menjangkau 779.635 warga. Menurutnya, capaian tersebut didukung kebiasaan pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan dan menjangkau kebutuhan masyarakat.

"Kenapa Kabupaten Banyuwangi punya CKG tinggi dan bagus? Karena sudah terbiasa menolong warga," pungkas Benjamin.