Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang penerapan kendaraan listrik secara lebih luas.

Sementara itu, Wamen Stella menyampaikan bahwa Indonesia perlu memanfaatkan momentum pengembangan kendaraan listrik melalui penyiapan SDM dan kebijakan pendidikan tinggi yang terarah. Pengembangan talenta perlu berjalan seiring dengan kebutuhan industri agar lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang relevan.

"Indonesia memiliki sumber daya alam dan talenta yang dapat dikembangkan. Namun, kita membutuhkan kebijakan yang tepat untuk mendorong talenta tersebut. Kita juga perlu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan teknologi kendaraan listrik," ujarnya.

Wamen Stella menilai pendidikan vokasi menjadi salah satu bagian penting dalam menyiapkan tenaga kerja untuk industri kendaraan listrik. Menurutnya, proporsi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia masih sekitar 8 persen dari keseluruhan pendidikan tinggi.