Amran menyebut pencapaian tersebut salah satunya ditopang penyaluran CBP kepada masyarakat karena pemerintah memiliki ruang lebih besar melakukan intervensi pasar.
Kekuatan stok beras pemerintah saat ini yang mencapai 4,5 juta ton, menurut dia, membuat penyaluran bantuan pangan dan program stabilisasi pasokan serta harga pangan dapat dilakukan secara optimal.
Bapanas mencatat realisasi penyaluran CBP melalui Perum Bulog sejak Januari hingga 28 Oktober 2026 telah mencapai 2,88 juta ton beras. Jumlah tersebut belum termasuk tambahan penugasan program SPHP beras dan bantuan pangan beras hingga akhir tahun sebesar 76,8 ribu ton.
Sementara itu, alokasi bantuan pangan beras sampai akhir tahun 2026 mencapai 997 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penerima manfaat.
Amran memperkirakan total penyaluran CBP kepada masyarakat hingga akhir 2026 dapat mendekati empat juta ton dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Rekor sebelumnya terjadi pada 2024 dengan penyaluran CBP mencapai 3,37 juta ton melalui berbagai program intervensi pangan pemerintah.
Dari total penyaluran CBP hingga Oktober sebesar 2,88 juta ton, sebanyak 1,63 juta ton berasal dari realisasi bantuan pangan beras. Bantuan pangan tersebut terdiri dari tahap pertama sebesar 662,86 ribu ton dan tahap kedua yang telah selesai sebesar 967,51 ribu ton.