NADIKABAR.COM — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy meminta Bali menjadi provinsi percontohan penurunan emisi karbon.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa, ia mengatakan upaya tersebut perlu dilakukan bersama oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak, termasuk melalui penggunaan energi bersih dalam kegiatan pariwisata dan ekonomi.

“Saya minta supaya Bali dijadikan provinsi percontohan penurunan emisi karbon,” ujar dia saat menerima Gubernur Bali I Wayan Koster dalam pertemuan di Kementerian PPN/Bappenas.

Penguatan konektivitas antar wilayah dan percepatan penurunan emisi disebut menjadi bagian penting dalam pengembangan Bali ke depan. Dalam hal itu, pemerintah mendorong integrasi infrastruktur transportasi, logistik, pariwisata, dan energi untuk memperkuat pemerataan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan Bali.

Salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah upaya memudahkan mobilitas masyarakat sekaligus memperlancar distribusi barang di Bali.

Adapun Pemerintah Provinsi Bali menyampaikan kebutuhan perbaikan akses menuju sejumlah kawasan strategis serta pengembangan sejumlah pelabuhan di Bali Utara dan Bali Timur. Pelabuhan tersebut diharapkan tidak hanya mendukung kegiatan perikanan, tetapi juga menjadi jalur pergerakan penumpang dan barang.

Kepadatan angkutan melalui jalur Gilimanuk–Ketapang diharapkan dapat dikurangi dengan bertambahnya pilihan jalur, sekaligus membuka akses bagi kegiatan ekonomi dan pariwisata di wilayah lain.

Rachmat Pambudy menekankan bahwa pembangunan infrastruktur harus membawa perubahan nyata bagi masyarakat. “Kita mesti melakukan sesuatu yang berbeda, dan itu mengurangi kemacetan, mengurangi polusi,” kata Kepala Bappenas.

Pembahasan juga mencakup persoalan lingkungan yang dihadapi Bali, mulai dari abrasi pantai, pengelolaan sampah, sanitasi, hingga air limbah.

Selain itu, pertemuan membahas kelanjutan perlindungan kawasan pantai serta pengembangan pengelolaan sampah organik agar dapat dimanfaatkan kembali.

“Arah tersebut penting karena pertumbuhan pariwisata Bali turut meningkatkan tekanan terhadap lingkungan,” ujar dia.

Kawasan Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan), misalnya, menyumbang 71,41 persen timbulan sampah di Bali dan menghadapi defisit air sebesar 1,93 miliar meter kubik per tahun.

“Pembangunan yang lebih terhubung dan ramah lingkungan diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas Bali, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat di berbagai wilayah,” kata dia.