NADIKABAR.COM — Sekretariat Nasional (Seknas) SDGs Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pariwisata berkelanjutan di Taman Nasional Gunung Rinjani.
Kepala Sekretariat Nasional SDGs Bappenas Pungkas Bahjuri saat kunjungan kerja di Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Nusa Tenggara Barat, Rabu, menyampaikan bahwa Sekretariat Nasional (Seknas) SDGs Bappenas ingin melihat secara langsung bagaimana kawasan konservasi dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat melalui ekowisata di Taman Nasional Gunung Rinjani.
“Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan laboratorium nyata bagi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 15 mengenai Ekosistem Daratan,” ujar Pungkas.
Berdasarkan data dari Balai TNGR dalam Angka 2025, kawasan ini dikunjungi oleh 80.214 pendaki sepanjang tahun lalu, di mana 54 persen atau 43.236 orang di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya tarik wisata dapat mengancam kelestariannya sendiri apabila tidak diimbangi dengan tata kelola yang ketat. Di sisi lain, ekowisata yang melibatkan masyarakat lokal seperti pemberdayaan masyarakat sebagai sumber penghidupan sekaligus sistem pengawasan kawasan,” ujarnya.
Tingginya angka kunjungan ini, kata Pungkas, turut menyisakan tantangan berupa timbulan sampah pendakian yang mencapai 30.359,52 kilogram dalam setahun, atau rata-rata sekitar 0,38 kilogram per pendaki.
“Praktik di Rinjani ini dinilai berkaitan erat dengan t arget ekosistem daratan dan pegunungan, serta tentang pariwisata berkelanjutan dan mengenai pengurangan sampah,” kata Pungkas.
Di kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Budhy Kurniawan mendukung program konservasi dan ekowisata yang digaungkan oleh Kementerian PPN/Bappenas.
“Tentunya kami di Rinjani sudah menerapkan sejumlah hal yang sangat peduli terhadap ekosistem lingkungan misalnya dalam melakukan pemilahan dan manajemen sampah, ini juga selaras dengan penguatan ekosistem dan memberikan kontribusi secara ekonomi,” kata Budhy.
Budhy juga menjelaskan pihak BTNGR sudah berkoordinasi bersama kelompok tokoh masyarakat dan menuju destinasi wisata yang berkelanjutan.
“Rinjani memiliki kosmologis dan bisa menjadi nilai kultural sejarah, dan menjadi nilai ekologi. Kami sudah memiliki visi 5 tahun ke depan dari pengelolaan hutan, hingga smart tourism ecosystem,” ujarnya.