Pada kesempatan yang sama, diluncurkan pula program Food Loss and Waste Emission Reductions for Climate-Smart Foodsheds (FLOWER) yang diinisiasi oleh Global Green Growth Institute (GGGI) dan IKEA Foundation. Langkah tersebut menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi pertama di Indonesia yang memiliki dokumen perencanaan ekonomi sirkular di tingkat provinsi.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Daerah Jawa Barat, Sumasna, menyampaikan bahwa melalui penerapan ekonomi sirkular dan program FLOWER, limbah yang selama ini terbuang dapat dimanfaatkan kembali untuk mengurangi persentase sampah sebesar 45-50 persen dan akan membuka peluang ekonomi baru.

"Ke depannya, diharapkan daerah dan pelaku usaha bisa melanjutkan praktik ekonomi sirkular secara mandiri serta memperluas penerapannya sesuai kebutuhan wilayah,” kata Sumasna.

RAD-ES Jawa Barat sendiri menerjemahkan kerangka ekonomi sirkular nasional ke dalam konteks dan kebutuhan pembangunan daerah.

Penyusunan peta jalan tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas perangkat daerah, validasi data, dan konsultasi publik yang mencakup tujuh sektor prioritas, yaitu pangan, plastik, tekstil, konstruksi, elektronik, otomotif, dan kertas. Ketujuh sektor itu dipilih berdasarkan kontribusinya terhadap perekonomian daerah serta memiliki potensi penerapan prinsip ekonomi sirkular yang tinggi.

Implementasi RAD-ES diharapkan mendukung pencapaian target percepatan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 5,2–6 persen dan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,65 persen pada 2045.