Meski demikian, potensi produksi yang melimpah belum cukup untuk menjamin keberhasilan ekspor. Pelaku usaha juga harus mampu memenuhi berbagai persyaratan negara tujuan, mulai dari kualitas produk hingga sistem penelusuran asal-usul komoditas.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin Dian Seri Rezeki Kusumastuti menyampaikan bahwa besarnya produksi buah tropis Indonesia belum cukup untuk menjamin keberhasilan ekspor. Karena itu, pembukaan akses pasar perlu diikuti kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi berbagai persyaratan negara tujuan. "Keberhasilan membuka pasar harus diikuti dengan kesiapan pelaku usaha, kemampuan melacak asal-usul produk atau ketertelusuran, serta konsistensi menjaga kualitas dan kesehatan produk," kata Dian dalam keterangannya, dikutip pada Senin (26/10). Dian menjelaskan, pemenuhan persyaratan fitosanitari menjadi bagian penting dalam perdagangan buah. Pasalnya, negara tujuan dapat menetapkan ketentuan terkait organisme pengganggu tumbuhan, perlakuan karantina, pengemasan, ketertelusuran, hingga sertifikasi. Karena itu, dia mendorong pelaku usaha berkonsultasi sejak awal sebelum melakukan ekspor agar persyaratan negara tujuan dapat dipersiapkan sejak dari kebun hingga proses pengiriman. Sebagai otoritas perlindungan tumbuhan nasional, Barantin melakukan komunikasi dan diplomasi teknis dengan otoritas karantina negara mitra. Barantin menyebut, proses tersebut diperlukan guna menyepakati persyaratan teknis, membuka akses pasar baru, sekaligus menjaga kelancaran ekspor komoditas pertanian Indonesia. Di tingkat pelaku usaha, Barantin memberikan layanan pemeriksaan, sertifikasi, serta pendampingan agar komoditas yang akan dikirim memenuhi persyaratan negara tujuan. Lembaga tersebut juga memberikan pendampingan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah. Tidak hanya itu, Barantin mengikuti pameran perdagangan internasional dan menggelar forum bisnis yang mempertemukan pengekspor, otoritas karantina, serta calon pembeli dari luar negeri. Menurut Dian, penguatan ekspor buah tropis membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, asosiasi, dan pengekspor. "Dengan produk yang berkualitas, sistem karantina yang kredibel, serta diplomasi yang kuat dengan negara mitra, kami sangat optimistis buah tropis segar Indonesia akan menjangkau pasar dunia yang lebih luas," pungkasnya.