"Saya bisa bekerja sama dengan mereka dalam banyak hal," ujarnya.
Namun, pada saat yang sama, Trump memperingatkan bahwa dirinya siap menggunakan kekuasaan eksekutifnya untuk memveto rancangan undang-undang apa pun dari Partai Demokrat, kapan pun dia merasa perlu melakukannya.
"Mereka bisa saja mengajukan, katakanlah, 50 rancangan undang-undang hebat yang mereka banggakan, lalu saya akan mengembalikannya dengan stempel khusus -- 'veto'," cetus Presiden AS tersebut.
Lebih lanjut, Trump mengakui bahwa konflik melawan Iran yang berlarut-larut turut mempengaruhi hasil pemilu sela ini. Diketahui bahwa berbagai jajak pendapat menjelang pemilu sela menunjukkan bahwa isu perang Iran, dan kenaikan harga minyak yang diakibatkannya, sangat tidak disukai oleh para pemilih AS.
"Saya pikir salah satu faktornya adalah Iran, tetapi di sisi lain, rakyat juga memahami pentingnya langkah-langkah yang telah saya ambil terkait Iran," kata Trump dalam wawancara dengan Fox News tersebut.
Terlepas dari itu, nada bicara Trump yang bernuansa mendamaikan ini tidak ditujukan untuk partainya sendiri, Partai Republik. Dalam pernyataan terpisah via akun Truth Social miliknya, Trump mengklaim bahwa kekalahan didapatkan Partai Republik karena dirinya tidak mencalonkan diri dalam pemilu ini.
"Nama saya tidak ada dalam surat suara dan seandainya ada, kita pasti menang TELAK!" ujarnya.
Namun dua hari setelah pemilu sela digelar, seperti dilansir AFP, Jumat (6/11), Trump melontarkan pernyataan keras yang menjadi ciri khasnya, dengan menyebut pemilu tersebut diwarnai kecurangan.
"Pemilu kita sangat curang, Anda tidak akan bisa membayangkannya," kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Kamis (5/11) waktu setempat.
Kekesalan Trump tampaknya memuncak setelah laju kemenangan Partai Demokrat semakin tak terbendung, menyusul potensi kekalahan tak terduga Partai Republik di negara bagian Mississippi, salah satu basis paling solid bagi Partai Republik.