Kadhafi menjelaskan, indeks tersebut dapat menjadi tolok ukur (benchmark) untuk menilai kinerja portofolio obligasi dan sukuk berbasis ESG, yang mana kehadirannya membuka peluang pengembangan produk investasi berbasis indeks.

Pihaknya pun menilai prospek pasar obligasi dan sukuk korporasi masih positif hingga tahun 2027, yang mana kebutuhan perusahaan untuk memperoleh pendanaan di luar perbankan menjadi salah satu penopangnya.“Kami melihat prospek ke depan akan terus meningkat. Kalau kita lihat dari sisi likuiditas, frekuensi transaksi di pasar obligasi terus mengalami pertumbuhan. Ini salah satu indikator ke depan bahwa pasar obligasi kita akan terus memiliki prospek yang baik,” ujar Kadhafi.

Ia menjelaskan, korporasi tentunya masih membutuhkan penerbitan obligasi maupun sukuk untuk memenuhi kebutuhan pendanaan.Namun demikian, menurutnya, perkembangan imbal hasil (yield) dan suku bunga tetap menjadi tantangan.