Dari dua tokoh tersebut, Eko menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu berawal dari senjata, jumlah pasukan, atau sumber daya yang besar. Kekuatan dapat tumbuh ketika masyarakat percaya kepada kepemimpinan dan bersedia mengubah kepercayaan itu menjadi tindakan.Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam The Secret Weakness of Every Great Power.

Buku ini mengajak pembaca melihat sisi lain dari kekuatan besar: bagaimana kekuasaan yang tampak kokoh dapat melemah ketika kepercayaan dan dukungan dari dalam mulai terlepas.Konsep tersebut dirumuskan Eko melalui istilah SPLIT, yakni kondisi ketika kekuatan dari luar masih terlihat utuh, sementara dukungan dan kepercayaan dari dalam perlahan menjauh.

Keruntuhan Uni Soviet pada 1991 menjadi salah satu ilustrasinya. Negara adidaya tersebut masih memiliki persenjataan nuklir dan perangkat kekuasaan ketika akhirnya bubar dan terpecah menjadi 15 negara. Dari sini, persoalan kekuatan tidak lagi semata-mata soal seberapa banyak yang dimiliki sebuah negara, melainkan seberapa efektif kekuatan itu dapat dipertahankan dan digunakan.

Perspektif tersebut mendapat penguatan dari Laksda TNI (Purn) I Nengah Putra A., Dosen Tetap Program Studi Industri Pertahanan Universitas Pertahanan RI. Ia mengambil contoh Perang Vietnam (1955-1975). Amerika Serikat memiliki keunggulan besar dalam militer, teknologi, industri, dan logistik. Namun, keunggulan material tersebut tidak otomatis menghasilkan kemenangan politik.