Dalam kacamata keilmuan komunikasi, langkah pemulihan cepat yang dilakukan pemerintah Korea Selatan sangat sejalan dengan Situational Crisis Communication Theory (SCCT) yang digagas oleh pakar komunikasi W Timothy Coombs.

Teori ini menekankan bahwa strategi komunikasi krisis sebuah institusi harus disesuaikan dengan tingkat tanggung jawab yang diatribusikan publik kepada mereka. Semakin besar krisisnya, semakin besar pula tuntutan akomodasi dari organisasi tersebut.

Ketika krisis yang terjadi sangat parah dan ancaman terhadap stabilitas negara sangat tinggi, pendekatan defensif atau sikap lepas tangan tidak akan pernah membuahkan hasil. Korea Selatan memahami betul hal ini. Mereka segera menerapkan strategi instructing information atau pemberian informasi yang bersifat membimbing dan menenangkan publik secara konsisten.

Tim investigasi independen dibentuk untuk menangani skandal penyadapan dan korupsi elite. Juru bicara tim investigasi ini tampil ke publik melalui taklimat media yang disiarkan langsung secara harian. Informasi disampaikan secara gamblang dan apa adanya, menyebutkan siapa saja figur publik yang sedang diperiksa, apa temuan sementaranya, dan ke mana arah penyelidikan berjalan.

Sebagai pelengkap, strategi rebuilding atau pembangunan kembali reputasi diterapkan melalui transparansi radikal tingkat dewa. Pemimpin negara dan menteri-menteri utama tidak lagi bersembunyi di balik staf hubungan masyarakat.