NADIKABAR.COM — Perdana Menteri Belgia Bart De Wever pada Rabu (21/10) menyatakan keyakinannya bahwa Komisi Eropa tidak akan mengusulkan penggunaan aset Rusia yang dibekukan di Belgia untuk mendanai Ukraina.
Berbicara di hadapan Komite Penasihat Federal untuk Urusan Eropa, De Wever mengatakan masalah tersebut telah dibahas dalam pertemuan puncak Uni Eropa pekan lalu, demikian laporan kantor berita Belga.
Menurut dia, Komisi Eropa telah meyakinkan para pemimpin negara anggota bahwa mereka tidak akan membuka kembali perdebatan mengenai aset Rusia yang disimpan di Euroclear, lembaga yang berbasis di Brussel.
"Saya yakin Komisi Eropa tidak akan mengajukan usulan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan Ukraina melalui operasi baru yang berkaitan dengan aset Rusia. Saya yakin akan hal itu, karena itulah yang disampaikan," kata dia.
Tahun lalu, De Wever dengan tegas menentang usulan untuk menggunakan aset Rusia senilai sekitar 185 miliar euro (sekitar Rp3.744 kuadriliun) yang dibekukan di Euroclear guna mendukung Ukraina.
Sebagai gantinya, sejumlah pemimpin Uni Eropa menyepakati pemberian pinjaman sebesar 90 miliar euro (sekitar Rp1.816 kuadriliun) bagi Ukraina untuk 2026 dan 2027.
Namun, pendanaan tersebut diperkirakan tidak akan mencukupi kebutuhan Kiev.
Dalam pertemuan puncak pekan lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy meminta tambahan dukungan sebesar 70 miliar euro (Rp1.412 kuadriliun) untuk tahun depan.
De Wever tidak menutup kemungkinan bahwa sejumlah negara anggota lain dari Uni Eropa dapat kembali mengangkat isu penggunaan aset Rusia yang dibekukan tersebut.
Dia mengkritik Perdana Menteri Belanda Rob Jetten karena secara terbuka mendukung penyitaan dana tersebut.
"Tidak semua pihak terlibat dalam perdebatan tahun lalu. Kini muncul pemimpin-pemimpin baru yang mengembangkan argumen yang sebenarnya sudah berhasil saya redam sejak awal tahun lalu," kata De Wever.
Perdana Menteri Belgia itu juga memperingatkan bahwa pernyataan publik yang mendukung penyitaan aset Rusia pun dapat menimbulkan konsekuensi hukum.
Menurut De Wever, peringatan tersebut memberikan pengaruh terhadap para pemimpin lain selama pertemuan puncak berlangsung.
Dia menyebutkan bahwa kini tidak ada lagi "antusiasme yang besar" di kalangan pemimpin Uni Eropa untuk menindaklanjuti usulan tersebut.
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia