ASRM menjelaskan bahwa kualitas sperma pria perokok memang cenderung lebih rendah dibandingkan pria yang tidak merokok. Namun, bukti ilmiah yang secara langsung memastikan bahwa merokok menyebabkan infertilitas pria masih belum sepenuhnya konklusif.
Artinya, merokok merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Kondisi kesehatan, usia, pola hidup, dan faktor reproduksi lainnya juga dapat memengaruhi kemampuan pria untuk memiliki keturunan.
Berhenti merokok untuk menjaga kesuburan
Menghentikan kebiasaan merokok menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan reproduksi. Perbaikan kualitas sperma tidak terjadi secara instan karena tubuh membutuhkan waktu untuk membentuk sel sperma baru.
Proses pembentukan sperma umumnya berlangsung sekitar 74 hari. Karena itu, perubahan pola hidup, termasuk berhenti merokok, perlu dilakukan secara konsisten agar tubuh memiliki kesempatan memperbaiki kualitas sperma.
Selain itu, menjaga pola makan seimbang, berolahraga secara teratur, tidur cukup, dan menghindari paparan asap rokok juga dapat membantu menjaga kesehatan reproduksi.
Jika sedang merencanakan kehamilan dan memiliki kekhawatiran mengenai kesuburan, pria dapat berkonsultasi dengan dokter untuk menjalani pemeriksaan analisis sperma.
Dengan demikian, anggapan bahwa merokok dapat memperburuk kualitas sperma bukan sekadar mitos. Meski tidak otomatis menyebabkan kemandulan, kebiasaan tersebut berpotensi mengganggu kesehatan reproduksi dan sebaiknya dihentikan.