Begitu pula dengan tanda tangan yang sangat kecil, yang kadang ditafsirkan berkaitan dengan sifat lebih tertutup atau rendah hati.
Masalahnya, interpretasi semacam itu belum memiliki dasar ilmiah yang cukup kuat untuk digunakan sebagai patokan kepribadian seseorang.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Reports pada 2009 menguji apakah analisis tulisan tangan dapat digunakan untuk mengukur karakter dalam model kepribadian Big Five.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 200 partisipan dalam dua studi. Hasilnya tidak menemukan bukti yang memadai bahwa analisis grafologi dapat mengukur dimensi kepribadian Big Five. Penelitian itu juga menemukan tingkat kesepakatan antargrafolog yang rendah.
Artinya, tanda tangan besar tidak bisa begitu saja diterjemahkan menjadi "orang ini percaya diri".
Bisa saja memang demikian, tetapi bentuk tanda tangan saja tidak cukup untuk membuktikannya.
Bagaimana dengan tanda tangan yang sulit dibaca?
Nah, ini juga sering menjadi bahan pembicaraan.
Tanda tangan yang sulit dibaca kadang dianggap menunjukkan bahwa seseorang memiliki sifat misterius, tertutup, atau tidak ingin terlalu banyak diketahui orang lain.
Sebaliknya, tanda tangan yang mudah dibaca sering dikaitkan dengan keterbukaan atau rasa percaya diri.
Kembali lagi, itu merupakan interpretasi dalam grafologi, bukan aturan psikologi yang bisa digunakan untuk membaca kepribadian seseorang.
Bentuk tanda tangan juga bisa dipengaruhi oleh hal yang jauh lebih sederhana.
Misalnya, seseorang mungkin sengaja membuat tanda tangan yang rumit karena ingin membuatnya lebih sulit ditiru. Orang lain mungkin memilih tanda tangan sederhana karena sering harus membubuhkannya pada banyak dokumen.
Dengan kata lain, ada alasan praktis di balik sebuah tanda tangan yang tidak selalu berkaitan dengan kepribadian.