NADIKABAR.COM — Bentley, asal Inggris, mengubah strategi elektrifikasinya dengan meninggalkan target untuk menjadi produsen mobil listrik sepenuhnya pada 2030 menurut laporan dari CarsCoops, Jumat (25/9)
Produsen mobil ini memilih pendekatan yang lebih fleksibel dengan tetap mengembangkan kendaraan-kendaraan seperti listrik (EV), plug-in hybrid (PHEV) dan juga mesin pembakar internal (ICE).
Perubahan strategi itu dilakukan di tengah perkembangan pasar kendaraan listrik yang dinilai sulit diprediksi serta perubahan kebijakan regulator di sejumlah negara.
Sebelumnya, Bentley melalui program Beyond100 pada 2020 menargetkan seluruh jajaran produknya beralih ke model plug-in hybrid atau EV mulai 2026, sebelum sepenuhnya menjadi merek listrik pada 2030.
CEO Bentley, Frank-Steffen Walliser mengatakan kondisi industri otomotif saat ini membuat perencanaan jangka panjang tidak lagi dapat dilakukan dengan pola yang sama seperti sebelumnya.
Menurut Walliser, Bentley perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan produksi dengan perubahan permintaan konsumen dan regulasi. Salah satu langkah yang disiapkan adalah, memproduksi kendaraan listrik dan plug-in hybrid pada lini produksi yang sama.
Strategi tersebut memungkinkan bagi Bentley, dapat mengubah komposisi produksi berdasarkan perkembangan pasar tanpa harus membangun fasilitas produksi yang sepenuhnya terpisah untuk setiap jenis sistem penggerak.
Bentley juga mempercepat pengembangan model baru. Waktu pengembangan kendaraan yang sebelumnya mencapai sekitar empat tahun, kini ditargetkan turun menjadi 36 bulan atau tiga tahun.
Sementara itu, Bentley Torcal menjadi model listrik pertama merek tersebut. Mobil ini menggunakan platform PPE khusus kendaraan listrik dan memiliki jarak tempuh hingga 604 kilometer.
Bentley memastikan tidak akan menghadirkan versi plug-in hybrid untuk Torcal, karena penggunaan platform EV murni dan pertimbangan posisi produk agar tidak tumpang tindih dengan Bentayga.
Dengan perubahan tersebut, Bentley kini menempatkan fleksibilitas teknologi sebagai bagian penting dalam strategi elektrifikasi, sembari tetap mempertahankan pilihan mesin konvensional dan PHEV selama kebutuhan pasar masih ada.