NADIKABAR.COM — Memiliki anak kedua menjadi salah satu keputusan besar dalam kehidupan keluarga. Selain mempertimbangkan kesiapan orang tua, pasangan juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan ibu serta kebutuhan anak pertama sebelum merencanakan kehamilan berikutnya.
Jeda antara kelahiran anak pertama dan kehamilan berikutnya penting diperhatikan karena tubuh ibu membutuhkan waktu untuk memulihkan diri setelah menjalani kehamilan dan persalinan. Lantas, berapa tahun jarak anak pertama dan kedua yang ideal?
Mengapa jarak kehamilan perlu diperhatikan?
Kehamilan dan persalinan membuat tubuh mengalami berbagai perubahan, termasuk penggunaan cadangan nutrisi serta perubahan pada kondisi rahim, hormon, dan fisik ibu. Karena itu, kehamilan yang terjadi terlalu cepat setelah persalinan dapat meningkatkan sejumlah risiko pada kehamilan berikutnya.
Jarak kehamilan yang terlalu dekat juga berkaitan dengan meningkatnya risiko persalinan prematur. Risiko tertentu dapat menjadi lebih diperhatikan pada ibu yang sebelumnya menjalani operasi caesar.
Selain kesehatan ibu, jeda kehamilan memberikan kesempatan bagi orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak pertama, termasuk pengasuhan, pemberian nutrisi, dan perhatian selama masa awal pertumbuhannya.
Jadi, berapa tahun jarak anak pertama dan kedua?
Rekomendasi kesehatan secara umum menyarankan agar kehamilan berikutnya tidak terjadi terlalu cepat setelah persalinan. Organisasi kesehatan dunia menyarankan menunggu setidaknya dua tahun setelah melahirkan sebelum kembali hamil.
Sementara itu, panduan obstetri menyarankan untuk menghindari kehamilan dalam waktu kurang dari enam bulan setelah persalinan. Jeda setidaknya 18 bulan sebelum kembali hamil memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar dibandingkan kehamilan yang terjadi dalam waktu lebih singkat.
Namun, perlu dipahami bahwa jarak dua tahun tersebut bukan berarti usia anak pertama dan kedua harus tepat dua tahun.
Rekomendasi tersebut menghitung jarak dari kelahiran anak pertama hingga awal kehamilan berikutnya. Artinya, jika seorang ibu kembali hamil sekitar dua tahun setelah melahirkan anak pertama, maka ketika anak kedua lahir, jarak usia keduanya akan lebih dari dua tahun.
Memberikan waktu yang cukup sebelum kehamilan berikutnya dapat membantu tubuh ibu memulihkan kondisi setelah kehamilan dan persalinan. Pemulihan tersebut mencakup pemulihan fisik sekaligus pemenuhan kembali sejumlah kebutuhan nutrisi tubuh.
Jeda yang cukup juga dapat membantu menurunkan risiko sejumlah masalah pada kehamilan berikutnya, termasuk kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. Sebaliknya, jarak kehamilan yang terlalu pendek perlu mendapatkan perhatian karena berkaitan dengan risiko komplikasi tertentu.
Bagi keluarga, jarak tersebut juga dapat memberikan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak pertama sebelum kembali menjalani masa kehamilan dan mengasuh bayi.
Apakah jarak dua tahun berlaku untuk semua orang?
Tidak ada satu angka yang otomatis berlaku untuk semua keluarga. Waktu yang tepat untuk merencanakan kehamilan berikutnya dapat dipengaruhi usia ibu, kondisi kesehatan, riwayat kehamilan sebelumnya, jenis persalinan, kesuburan, serta kondisi anak pertama.
Ibu yang pernah menjalani operasi caesar juga perlu memperhatikan kondisi tersebut ketika menentukan waktu kehamilan berikutnya. Jarak kehamilan yang terlalu pendek setelah operasi caesar dapat meningkatkan risiko tertentu, termasuk risiko robekan rahim pada kondisi persalinan tertentu.
Karena itu, pasangan yang ingin memiliki anak kedua sebaiknya tidak hanya berpatokan pada usia anak pertama. Kondisi kesehatan ibu dan kesiapan keluarga juga perlu menjadi pertimbangan sebelum merencanakan kehamilan.
Pada akhirnya, jarak sekitar 18 hingga 24 bulan sebelum kembali hamil menjadi rentang yang sering digunakan dalam rekomendasi kesehatan. Namun, keputusan mengenai waktu kehamilan berikutnya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu dan keluarga, demikian mengutip Kemkes, WHO, dan beberapa sumber lain.