NADIKABAR.COM — Suasana pantai siang itu terasa cukup sejuk di bawah rindangnya pepohonan saat gelaran pameran pesawat terbang di Beach Strip Pangandaran. Di sana, deretan pelaku UMKM tampak antusias menjajakan karya mereka, mulai dari aneka kuliner hingga kerajinan tangan yang unik.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas jual beli, seorang perempuan muda tampak asyik memainkan jemarinya. Ia begitu terampil mengolah dua utas benda menyerupai tali berwarna cokelat. Saat didekati, rupanya ia tengah menganyam rumput ilalang yang telah diolah sedemikian rupa menjadi tali.
Kerajinan itu dikenal dengan nama anyaman hatta. Bahan bakunya berasal dari tumbuhan yang hidup di belantara hutan pedalaman wilayah Pangandaran dan Priangan Timur. Untuk mendapatkan rumput tersebut, para perajin harus menembus area hutan yang jauh dari permukiman penduduk.
Niki Triyani (20), perempuan muda di balik anyaman itu, melempar senyum ramah. Mengenakan kerudung hitam dipadu rompi (vest) cokelat dan kacamata krem, ia terlihat sangat cekatan memainkan hatta. Dengan penuh ketelitian, ia merajai helaian hatta menjadi sebuah gelang yang rapi.
Gelang tersebut rupanya menjadi produk yang paling diburu pengunjung selama pameran. "Ini namanya gelang hatta, ini sedang prose anyam buat dijual langsung, sekalian tadi ada yang request ukurannya," kata Niki kepada NadiKabar, belum lama ini.
Karya tangan Niki ternyata tidak terbatas pada gelang. Ia telah memproduksi beragam suvenir berbahan hatta, mulai dari tas hingga wadah fungsional lainnya. "Kalo jenisnya banyak untuk kerajinan hatta itu beragam dari mulai tas, topi, wadah tempat menyimpan air minum hingga vot bunga," ucapnya.
Siapa sangka, helaian hatta yang dipegang Niki berasal dari rumput liar di hutan yang sulit didapatkan. Niki bahkan mengungkapkan bahwa tumbuhan hatta ini tidak bisa dibudidayakan secara sengaja.
"Ngambil bahan hata ini tidak mudah karena harus ke hutan, adanya di sekitar Langkaplancar, Cimerak dan sekitar rumah juga ada cuman agak jauh ngambilnya," ucap Niki.
Demi menjaga ketersediaan bahan baku, Niki bersama timnya harus berburu hingga ke tiga kabupaten tetangga, yakni Ciamis, Banjar, dan Tasikmalaya. "Pokoknya ambil bahanya itu dari wilayah priangan timur yang masih banyak hutan ke Tasik, Ciamis dan Banjar," katanya.
Meski statusnya hanya rumput hutan, di tangan perajin kreatif, tumbuhan ini menjelma menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Gulma tersebut disulap menjadi gelang, tas, topi, hiasan bunga, hingga keranjang pakaian.
Niki merupakan generasi penerus Perajin Hatta Mitra Saluyu (PHMS). Sebagai anak pertama, ia memikul tanggung jawab untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis orang tuanya.
Usaha kerajinan hatta ini sejatinya telah eksis sejak tahun 1999. Namun, pada masa awal, mereka hanya berperan sebagai pengepul atau pemasok bahan baku. Seiring waktu, mereka mulai berinovasi dengan menciptakan produk kriya sendiri.
"Kalo mulai fokus ke buat barang kerajinan itu sejak tahun 2012-2013," ucapnya.
Ia menyebutkan bahwa produk unggulan yang paling diminati saat ini adalah gelang dan tas. Kedua produk tersebut menjadi etalase utama yang merepresentasikan kualitas usaha hatta miliknya.
Tinggal di kawasan wisata memacu Niki untuk memutar otak agar produknya semakin dikenal luas. Ia pun menggandeng sejumlah mitra layanan wisata untuk menjadikan rumah kerajinannya sebagai destinasi wisata edukasi bagi para pelancong.
"Untuk kenalkan produk berbagai cara kami lakukan, salah satunya menggandeng provider wisata. Alhamdulillah sekarang banyak yang berkunjung kesini untuk pelatihan dan membeli produk sebagai oleh-oleh," kata Niki.
Seiring meningkatnya permintaan, usaha kerajinan hatta ini membutuhkan dukungan tenaga kerja yang tidak sedikit. Niki pun memberdayakan tetangga hingga kerabatnya untuk membantu proses produksi dan pencarian bahan baku.
Saat ini, Niki telah mempekerjakan lebih dari 200 orang yang tersebar di tiga kabupaten, baik untuk mencari bahan baku di hutan maupun proses produksi. "Alhamdulillah saat ini udah ratusan pegawai sekitar 200 lebih. Mereka juga termasuk yang mencari rumputnya ke hutan," kata dia.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja lokal sangat terbantu oleh keberadaan usaha rumput hatta ini.
Niki mengaku bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. "Alhamdulillah banyak yang pekerjakan termasuk tetangga tidak memandang usia," katanya.
Sebagai informasi, angka penyerapan tenaga kerja sektor ekonomi kreatif di Jawa Barat merupakan yang tertinggi secara nasional. Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat pernah menyentuh angka Rp1.500 triliun pada akhir tahun 2024 dari sektor ekonomi kreatif (Ekraf).
Melansir data Katadata pada Senin (7/9/2026), pada tahun 2024 jumlah tenaga kerja nasional dari sektor Ekraf mencapai 26,4 juta atau setara 18,30%. Angka ini meningkat pada tahun 2026 menjadi 27,4 juta atau 18,70% dari total serapan tenaga kerja nasional, dengan Jawa Barat sebagai kontributor terbesar.
Tiga provinsi utama penyerap tenaga kerja Ekonomi Kreatif adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan total sumbangsih mencapai 57,8% secara nasional.