Perkembangan pesat UMKM ini juga didorong oleh pembinaan dari BI, mulai dari fasilitasi promosi, digitalisasi pembayaran melalui QRIS, hingga pendampingan di stan pameran.
"Bantuan dari Bank Indonesia sangat terasa, terutama dalam hal perluasan pemasaran, kesempatan mengikutsertakan kami di pameran-pameran besar, serta penerapan sistem pembayaran QRIS yang memudahkan transaksi digital dan mencegah peredaran uang palsu," kata Niki.
Selain dukungan pemasaran, Niki juga mendapatkan edukasi mengenai literasi keuangan. "Tahu QRIS juga dari BI, mendeteksi uang palsu hingga inklusi keuangan," ucapnya.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran dan ingin merasakan pengalaman menganyam, mereka dapat mengunjungi galeri hatta yang berlokasi di kawasan wisata alam Citumang.
"Selain produk jadi, kami juga siapkan lokasi untuk workshop pelatihan menganyam secara langsung," ucap Niki.
Para pengunjung akan diajarkan teknik dasar menganyam hingga mampu menghasilkan karya sendiri. "Jadi nanti bisa langsung dibawa pulang," katanya.
Niki mengenang masa-masa awal pameran di mana ia sering kesulitan menyiapkan uang kembalian. Namun, sejak mengadopsi sistem pembayaran digital, segalanya menjadi lebih praktis. "Karena sekarang hampir 80% pelanggan kami mau datang ke lokasi ataupun online via QRIS, tanpa kembalian jadi simpel," ucapnya.
Tren penggunaan QRIS di wilayah Priangan Timur memang menunjukkan lonjakan signifikan pada awal tahun 2026. BI Tasikmalaya mencatat kenaikan transaksi hingga 579 persen, dengan jumlah merchant mencapai 5.000 lokasi.
Secara nasional, Jawa Barat mengukuhkan posisinya sebagai motor utama ekosistem digital di Indonesia.
Jumlah merchant QRIS di Jawa Barat telah menembus angka 8,28 juta, atau berkontribusi sebesar 21,73% dari total *merchant nasional. Dominasi ini menegaskan peran vital Tanah Pasundan dalam mempercepat inklusi keuangan digital.
Keberhasilan jutaan merchant QRIS di Jawa Barat merupakan buah dari kolaborasi yang solid. Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan pelaku industri untuk memperluas digitalisasi, yang dibarengi dengan sosialisasi perlindungan konsumen secara berkelanjutan, meliputi:
Edukasi QRIS: Menjamin keamanan dan kenyamanan dalam setiap transaksi digital.
Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah: Memperkuat kedaulatan dan kecintaan terhadap mata uang negara.
Perlindungan Konsumen (PeKA): Memberikan edukasi mengenai hak-hak konsumen kepada masyarakat luas.
Komitmen Pemprov Jabar Dorong UMKM Go Digital
Adopsi masif QRIS oleh pelaku usaha sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.
Sesuai regulasi daerah terkait Penumbuhan Iklim Usaha (Bab VIII), Pemprov Jabar aktif menciptakan ekosistem kondusif bagi Koperasi dan UMKM melalui sembilan aspek strategis, mulai dari pendanaan, sarana prasarana, hingga dukungan kelembagaan.
Penguatan ini dipertegas dalam Pengembangan Koperasi dan UMKM (Bab IX), di mana Pemprov Jabar memfasilitasi transformasi pelaku usaha lokal melalui empat pilar utama:
Produksi dan Pengolahan: Meningkatkan standar mutu dan daya saing produk lokal.
Pemasaran: Memperluas akses pasar melalui ekosistem digital.
Sumber Daya Manusia: Meningkatkan literasi keuangan dan kapabilitas digital para pelaku usaha.
Desain dan Teknologi: Mendorong efisiensi operasional melalui adopsi teknologi pembayaran masa kini.