Dalam pemilu kali ini, ada sekitar 7,3 juta orang yang memiliki hak pilih yang sah, termasuk kurang lebih 1,2 juta warga Israel keturunan Palestina. Dari jumlah tersebut, lebih dari setengah juta pemilih di antaranya merupakan pemilih muda yang akan memberikan suara untuk pertama kalinya.

Dalam pemilu legislatif ini, warga Israel akan memilih anggota parlemen atau Knesset, yang beranggotakan 120 orang. Setidaknya ada 37 partai dan elektoral bersaing untuk memperebutkan kursi parlemen.

Berdasarkan sistem perwakilan proporsional yang diterapkan Israel, para pemilih memberikan suara untuk partai, bukan untuk kandidat individu. Setiap partai harus memperoleh setidaknya 3,25 persen dari total suara sah agar dapat masuk ke parlemen.

Untuk bisa membentuk koalisi pemerintahan, diperlukan dukungan dari setidaknya 61 anggota parlemen.

Sepanjang sejarah politik Israel, belum pernah ada satu partai pun yang berhasil meraih mayoritas mutlak di Knesset. Negosiasi koalisi menjadi faktor penentu dalam menentukan siapa yang akan menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Israel selanjutnya.

Begitu tempat pemungutan suara ditutup, hasil exit polls diperkirakan akan dirilis. Sedangkan hasil resmi secara awal akan mulai bermunculan sepanjang malam, meskipun penghitungan suara dari personel militer, rumah sakit, penjara, dan tempat pemungutan suara khusus lainnya akan memakan waktu beberapa hari.