Hasil resmi akhir pemilu Israel dijadwalkan untuk diumumkan paling lambat 4 November, yang akan disusul oleh negosiasi koalisi yang bisa memakan waktu berminggu-minggu.
Pemilu ini berpotensi mengakhiri masa kekuasaan panjang Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, atau justru membuat negara Yahudi itu kembali mengalami kebuntuan politik mengingat tidak satu pun blok utama politik yang diprediksi mampu meraih mayoritas kursi dalam parlemen untuk membentuk pemerintahan.
Jajak pendapat terakhir yang dipublikasikan menunjukkan bahwa Netanyahu (77), PM dengan masa jabatan terlama di Israel, bersaing ketat dengan rival utamanya, Gadi Eisenkot (66), mantan kepala militer Israel yang merupakan pendatang baru di politik. Eisenkot yang dikenal memiliki pembawaan tenang, dianggap sebagai antitesis Netanyahu.
Jajak pendapat yang dipublikasikan tiga televisi utama Israel memproyeksikan kubu oposisi yang dipimpin Eisenkot akan mengamankan total 52-56 kursi parlemen, sedangkan koalisi sayap kanan dan religius Netanyahu diproyeksikan meraup total 50 kursi parlemen.
Partai-partai yang dipimpin oleh tokoh dan politisi keturunan Palestina, yang bisa menjadi pemecah kebuntuan, diproyeksikan meraup total 14-16 kursi parlemen.
Proyeksi jajak pendapat itu menunjukkan baik Netanyahu maupun Eisenkot tidak memiliki jalan yang jelas untuk mencapai ambang batas 61 kursi parlemen yang dibutuhkan untuk bisa membentuk pemerintahan. Memenangkan jumlah kursi parlemen terbanyak tidak secara otomatis menentukan siapa yang akan menjadi PM.