Perusahaan rintisan yang diinkubasi IIT Madras mengembangkan roket yang menggunakan mesin semi-kriogenik dengan komponen yang dibuat menggunakan teknologi manufaktur aditif atau 3D printing. Roket itu sepenuhnya dirancang serta diproduksi secara lokal di India dan diluncurkan dari landasan peluncuran swasta pertama di India.
Bagi Arif, model seperti ini dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi di Indonesia. Kampus, menurutnya, tidak hanya dapat mengembangkan riset sendiri, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan startup atau bahkan mendampingi pengembangan teknologi mereka.
"Bayangkan, sebuah perguruan tinggi mendampingi startup untuk membuat roket yang sudah terbukti bisa meluncur ke luar angkasa," ungkap Arif.
Melihat inovasi canggih tersebut, BRIN terus mendorong ekostistem startup di Indonesia agar mampu menguasai teknologi tinggi (deep tech). Kepala BRIN menegaskan bahwa untuk mencapai level tersebut, Indonesia harus berani keluar dari zona riset konvensional
Pada 10-13 Desember 2026 mendatang, BRIN akan menggelar Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE) 2026 di BSD, Kota Tangerang. Ajang tersebut mewadahi para periset dari BRIN dan kampus untuk saling belajar menguasai dan mengembangkan deep tech.