NADIKABAR.COM — Presiden AS Donald Trump mengungkapkan keraguan mengenai apakah ia akan benar-benar melaksanakan ancaman untuk melanjutkan serangan militer terhadap Iran. Ia mengisyaratkan kemungkinan kesepakatan dengan Teheran tercapai.

Dilansir AFP dan Reuters, Selasa (3/11/2026), dalam beberapa pekan terakhir, Trump sempat mengisyaratkan kemungkinan untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada hari Selasa. Namun, usai menyampaikan pidato di Washington Reflecting Pool pada hari Senin (2/11), ia mengisyaratkan kemungkinan perubahan sikap.

Saat ditanya oleh wartawan apakah ia mempertimbangkan untuk menyerang Iran setelah pemilihan umum paruh waktu, Trump menjawab "tidak."

Perang dengan Iran menjadi salah satu penyebab utama tingginya harga bensin yang membebani para pemilih, sehingga Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri konflik tersebut. Sementara Iran menyatakan diskusi "intensif" sedang berlangsung, seraya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat-syarat ketat.

Trump melalui akun Truth Socialnya mengatakan kesepakatan dengan Teheran "bisa saja terjadi,". Hal itu disampaikan Trump sehari sebelum pemilihan paruh waktu (midterm election) AS yang krusial. Ia menambahkan bahwa "Iran menginginkan penyelesaian, sesegera mungkin."

Wakil Presiden JD Vance secara terpisah mengatakan bahwa ia dan Trump optimistis dapat mencapai kesepakatan. "Kami tentu telah membuat kemajuan. Kita lihat saja apakah kami bisa mencapai kemajuan lebih lanjut," ujar Vance kepada para wartawan pada hari Senin.

Trump menegaskan tuntutan utamanya, yakni agar Iran tidak memiliki senjata nuklir. "Kami tidak akan pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, dan mereka memahami hal itu. Mereka telah memahaminya, bahkan baru-baru ini pun mereka telah menyatakannya," kata Trump.

"Jika kita membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, negara ini tidak akan pernah bisa berfungsi seperti sedia kala. Seluruh dunia pun akan menjadi tempat yang sangat berbeda," ujarnya.

Ia menegaskan operasi tersebut sebenarnya bukanlah sebuah perang karena "hampir tidak ada pertempuran yang terjadi" belakangan ini, menyusul serangan-serangan telak beberapa bulan lalu yang menewaskan sejumlah pemimpin Iran.

"Kami melenyapkan para pemimpin mereka tingkat pemimpin pertama, tingkat pemimpin kedua dan mereka meminta kami untuk berhenti melakukannya, dan kami pun menyanggupinya," tuturnya.

Trump membahas mengenai Iran dalam sebuah pidato yang disebut-sebut sebagai pernyataan penutupnya bagi para pemilih menjelang pemilihan paruh waktu AS pada hari Selasa.

Harga minyak, yang sempat melonjak akibat blokade Iran terhadap koridor energi Selat Hormuz, anjlok lebih dari tujuh persen pada hari Senin di tengah optimisme akan kemungkinan berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan tersebut.

Trump juga menyoroti penurunan harga minyak dalam unggahannya di media sosial.

Sinyal diplomatik baru ini muncul menjelang pemilihan paruh waktu pada hari Selasa, di mana Partai Republik yang mengusung Trump berupaya mempertahankan kendali atas Kongres, meskipun terdapat ketidakpuasan pemilih terkait perang dan kenaikan harga bahan bakar.

Partai Demokrat berharap dapat memenangkan setidaknya sebagian kendali atas Kongres dan memberikan batasan politik terhadap Trump untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada hari Senin bahwa pembicaraan tidak langsung dengan Washington sedang berlangsung melalui pihak mediator.

"Mengingat sensitivitas dan gawatnya situasi saat ini, konsultasi dan pembahasan yang dilakukan sangat intensif," ujar Araghchi dalam sebuah wawancara video dengan kantor berita resmi IRNA.

"Qatar dan Pakistan memainkan peran penengah yang sangat aktif dalam negosiasi ini," tuturnya.