NADIKABAR.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) mengevaluasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumbawa Tarano Labuhan Bontong, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyusul kejadian yang dialami sejumlah siswa penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (27/10).

Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan, sebagai tindak lanjut BGN telah menghentikan sementara operasional SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong dengan status suspend sedang, sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan oleh instansi terkait sebagai bagian dari proses penelusuran.

"SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong saat ini sudah diberikan surat pemberhentian sementara atau suspend dengan kategori sedang. Berkaitan dengan tindak lanjutnya, kami akan menunggu hasil pemeriksaan makanan oleh instansi terkait," ujar Tysa di Jakarta, Rabu.

Tysa menjelaskan, evaluasi dilakukan untuk memastikan setiap SPPG menjalankan prosedur pengolahan dan penyajian MBG sesuai standar yang telah ditetapkan. Menurutnya, setiap temuan akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah perbaikan sekaligus memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan program.

"Kami menelusuri setiap tahapan, mulai dari pengolahan hingga penyajian makanan, untuk mengetahui apakah terdapat prosedur yang belum dijalankan sesuai ketentuan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi langkah perbaikan agar standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten," katanya.

BGN juga menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa yang terdampak, orang tua, dan pihak sekolah atas kejadian gangguan kesehatan yang dialami. BGN memahami kekhawatiran yang dirasakan keluarga dan memastikan koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk mendukung penanganan siswa serta mengawal proses evaluasi.

Berdasarkan laporan hingga Selasa (27/10) pukul 22.35 WITA, sebanyak 34 siswa telah menjalani observasi di dua fasilitas pelayanan kesehatan, yakni 32 siswa di Puskesmas Tarano dan dua siswa di Puskesmas Empang. Dalam perkembangan penanganan, kondisi siswa terdampak dilaporkan berangsur membaik dan dua siswa telah diperbolehkan kembali ke rumah.

Berdasarkan investigasi awal, dugaan sementara mengarah pada menu telur saus woku yang disajikan kepada penerima manfaat. Menurut keterangan awal kepala SPPG, telur direbus sekitar pukul 00.00 WITA, sedangkan prosedur yang seharusnya diterapkan, proses perebusan seharusnya dimulai pukul 02.00 WITA.

BGN menegaskan bahwa temuan awal tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab pasti kejadian. Penelusuran masih berlangsung dan hasil pemeriksaan dari instansi terkait akan menjadi bagian penting dalam menentukan tindak lanjut yang diperlukan.

"Setiap temuan akan ditindaklanjuti melalui evaluasi sesuai ketentuan. Kami juga terus memperkuat pengawasan agar seluruh tahapan pelayanan, mulai dari penyiapan bahan, pengolahan, hingga penyajian makanan, memperhatikan standar keamanan pangan," tutur Tysa.