NADIKABAR.COM — Badan Gizi Nasional (BGN) terus meningkatkan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dan stunting tinggi.
Upaya itu ditempuh dengan mengutamakan kesiapan operasional, pendampingan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta pemenuhan standar kualitas dan keamanan pangan.
"Kami tidak ingin sekadar memberikan makan bergizi gratis, tetapi juga memastikan makanan yang diberikan berkualitas. Karena itu, pada tahap awal ini, pembukaan SPPG kami prioritaskan di daerah 3T serta wilayah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi," ujar Juru Bicara BGN, Tysa Novenny dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Tysa menjelaskan, strategi pemerintah pusat dalam memperluas jangkauan layanan MBG tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah dapur, tetapi juga memastikan penerima manfaat memperoleh makanan yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan gizi.
Dia menegaskan, BGN terus mengevaluasi sekaligus memastikan pelaksanaan MBG berjalan sesuai standar yang ditetapkan karena hal tersebut menentukan prioritas pembukaan SPPG.
Ia menyebutkan, sekitar lebih dari 40 SPPG direncanakan dibuka di kabupaten dan kota di wilayah Aceh. Pembukaan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas jangkauan layanan MBG agar masyarakat di wilayah yang membutuhkan dapat memperoleh akses secara lebih merata.
Menurutnya, kesiapan operasional menjadi aspek penting sebelum SPPG mulai melayani penerima manfaat. Keberadaan bangunan saja belum cukup, karena pengelola juga perlu memperoleh pelatihan dan pendampingan agar proses penyediaan makanan memenuhi standar yang telah ditetapkan BGN.
"Setelah peresmian, tentu kami akan terus melakukan pendampingan dan mempersiapkan SPPG agar tidak terburu-buru beroperasi. Kami ingin memastikan makanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kualitas yang diharapkan, kebutuhan gizi penerima manfaat terpenuhi, dan makanan yang disajikan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak," tutur Tysa.