NADIKABAR.COM — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mewajibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memprioritaskan peternak susu lokal untuk menyuplai Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Mulai 1 November tahun ini, susu yang dibagikan kepada anak-anak kita di sekolah harus sesuai dengan ketentuan yang kami putuskan, yakni 80 persen harus susu segar yang berasal dari peternak lokal," ujar Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Ia menegaskan, Program MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat penyerapan produk pangan dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.
Mas Dar juga menekankan pentingnya menghubungkan kebutuhan pangan dalam pelaksanaan MBG dengan potensi produksi pertanian dan peternakan di daerah, untuk itu, penggunaan susu segar dalam negeri diharapkan dapat mendorong pertumbuhan usaha peternakan di berbagai daerah, termasuk wilayah yang memiliki potensi pengembangan peternakan sapi perah.
"Dengan demikian, kebutuhan pangan untuk program pemerintah dapat menjadi peluang ekonomi bagi produsen lokal sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat," katanya.
Ia menegaskan, penguatan keterlibatan peternak lokal perlu berjalan beriringan dengan upaya pemerintah meningkatkan produksi pangan nasional.
Ketersediaan bahan pangan yang memadai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pelaksanaan MBG sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Dalam kunjungannya ke Aceh untuk pelantikan pengurus Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada Selasa (13/10), Mas Dar juga menjelaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBG turut ditopang oleh kemampuan Indonesia menjaga ketersediaan dan meningkatkan produktivitas pangan nasional.
"Misalnya, perkembangan produksi pertanian di Aceh ini juga didukung oleh perbaikan irigasi, penyediaan pompa air, pupuk, serta benih. Intervensi tersebut membantu petani meningkatkan frekuensi panen dan produktivitas lahan, termasuk pada wilayah yang sebelumnya hanya dapat melakukan panen satu kali dalam setahun," ucap Mas Dar.
Upaya serupa perlu terus diperkuat agar pasokan pangan nasional tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim dan fenomena El Nino.