Ibrahim menyebutkan Jawa Timur memiliki modal yang kuat karena sebanyak 97,33 persen penduduknya beragama Islam atau sekitar 40,09 juta jiwa serta memiliki sebanyak 7.347 pesantren dengan jumlah santri mencapai lebih dari 660 ribu orang yang dapat menjadi bagian dari rantai aktivitas ekonomi syariah.

Potensi tersebut, kata dia, perlu diintegrasikan dengan pengembangan UMKM, pembiayaan syariah, industri halal, dan instrumen sosial seperti wakaf serta infak agar aktivitas ekonomi tidak berhenti pada konsumsi tetapi turut menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bank Indonesia, ujar Ibrahim, turut memperkuat fondasi tersebut melalui pendampingan terhadap 463 pondok pesantren di Jawa Timur dalam pengembangan unit usaha, fasilitasi sertifikasi halal bagi lebih dari 2.000 pelaku usaha dan lebih dari 270 juru sembelih halal, serta mengembangkan Zona Halal Assurance System (HAS).