Secara umum, Erwin menjelaskan bahwa pergerakan mata uang suatu negara dipengaruhi oleh faktor global dan domestik, baik yang berasal dari sentimen maupun kebutuhan.

Sentimen dapat mendorong pelaku pasar mengambil posisi, yang kemudian terealisasi menjadi perubahan supply dan demand di pasar valas.

Selain itu, faktor fundamental, seperti suku bunga, inflasi, harga energi, dan kondisi fiskal juga dapat mempengaruhi persepsi investor dan mendorong perubahan posisi portofolio.

“Jadi jalur terjadinya pelemahan nilai tukar itu tidak semata-mata hanya supply dan demand karena kebutuhan (kebutuhan valas di domestik), tapi ada jalur harga dan persepsi yang juga bekerja,” kata Erwin pula.

Mengingat faktor global tidak dapat dikendalikan, maka BI bersama pemerintah berupaya menjaga kondisi domestik tetap kondusif untuk mengurangi sentimen negatif. Sementara itu, BI juga tetap merespons dinamika global melalui kebijakan dan bauran intervensi di pasar valas.