Penguatan dolar AS itu juga berdampak terhadap aliran modal di negara berkembang (emerging market). Arus modal dari yang tadinya terparkir di negara berkembang, kembali beralih ke negara-negara maju, khususnya AS.
Selain itu, Destry menerangkan kecenderungan kenaikan suku bunga acuan The Fed juga berkaitan dengan meningkatnya tekanan inflasi global.
Ia mencatat inflasi global saat ini telah mencapai 4,6 persen.
Menurut dia, peningkatan inflasi tersebut turut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas energi di tengah konflik yang masih berlangsung di sejumlah wilayah dunia, terutama di kawasan Timur Tengah.
"Harga minyak yang terus meningkat di mana posisi 24 September mencapai 125,53 dolar AS per barel dan ini lebih tinggi dibanding rata-rata Agustus 2026 yang kisaran 90,88 dolar AS per barel ," ujar Destry.