"Pasokan dari Pertamina sudah cukup tinggi, yang tadinya 700 KL sekarang sudah ada yang 1.300 KL," bebernya.
Kendati begitu, peningkatan pasokan dianggap belum sepenuhnya mengurai antrean karena peningkatan permintaan BBM. Andi Sudirman pun mengusulkan penambahan kuota BBM untuk Sulsel.
"Maka kami meminta Pertamina melakukan analisis pengaruh migrasi ini untuk mengetahui berapa kuota BBM yang harus ditambahkan ke Sulsel," tegas Andi Sudirman.
Fenomena antrean BBM subsidi sedianya telah disikapi Pemprov Sulsel lewat skema pengaturan kendaraan di SPBU. Kebijakan itu tertuang dalam surat bernomor: 670/2478/DESDM yang diteken Plt Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulsel Kasman.
Salah satu solusi yang diterapkan adalah sistem ganjil dan genap untuk kendaraan yang hendak mengisi BBM subsidi di SPBU. Aturan untuk mengurai antrean kendaraan ini mulai diberlakukan di semua SPBU pada Sabtu (13/9).
Motor dan mobil diizinkan mengisi BBM di SPBU berdasarkan angka terakhir pada pelat kendaraan yang disesuaikan dengan tanggal pada hari diberlakukannya sistem itu. Aturan ganjil dan genap dikecualikan alias tidak berlaku bagi ojek online (ojol).
Pemprov Sulsel juga memberlakukan sekolah daring bagi siswa demi mengurangi mobilitas. Andi Sudirman menegaskan, kebijakan ganjil genap dan sekolah daring bersifat sementara yang pelaksanaannya melihat kondisi di lapangan.
"Kebijakan ini kita ambil karena terjadinya antrean yang panjang. Ini bukan kebijakan permanen. Itu tidak lain dilakukan untuk mengurai antrean supaya tetap dapat semua," tegas Andi Sudirman.
Pemprov Sulsel pun telah mengatur pengisian BBM pada truk pada malam hari saja atau dimulai pada pukul 21.00 Wita hingga 06.00 Wita. Hal ini untuk menghindari penumpukan kendaraan pada jam operasional siang.