Melihat keberagaman yang ada di kampusnya, Sebastiana berharap Unisa Yogyakarta bisa dapat mempertahankan hal tersebut. Ia sangat meyakini bila kampusnya itu punya tingkat toleransi yang tinggi.

"Harapan saya semoga hal baik yang telah dikembangkan oleh universitas bisa ke depannya dikembangkan lebih baik lagi. Walaupun saya dari agama lain, tetapi saya merasa bahwa tempat ini mempunyai toleransi yang tinggi," ucap Sebastiana.

Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti menyebut bukan hanya Sebastiana yang menjadi mahasiswa nonmuslim kampusnya. Pada penerimaan 2026/2027, Unisa menerima 2.878 mahasiswa baru dari latar belakang daerah, budaya, dan agama beragam.

Tercatat ada puluhan mahasiswa nonmuslim yang berasal dari agama Hindu, Katolik, dan Kristen. Mahasiswa baru ini tersebar dari 34 provinsi di Indonesia dan empat negara lain, yakni Palestina, Timor Leste, Nigeria, dan Thailand.

Warsiti menegaskan, keberagaman adalah kekayaan yang perlu dijaga di Unisa Yogyakarta. Perbedaan daerah asal, budaya, bahasa, maupun latar belakang ditekankannya bukan sebuah penghalang untuk membangun lingkungan akademik yang saling menghormati.

"Mahasiswa didorong untuk belajar dan memperluas pengetahuan, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta tumbuh dengan integritas dan toleransi. Pada akhirnya, ilmu dan profesi yang ditekuni diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," tegas Warsiti.