Posko Barongkolong berada di ketinggian, sekitar tujuh kilometer dari Pelabuhan Kedindi, Reo. Tak ditemukan kipas angin atau alat pendingin udara lainnya di dalam tenda itu.
NadiKabar harus keluar masuk tenda itu lantaran udara panas di dalamnya. Sementara, tiga bidan itu tetap bertahan dengan udara panas dalam tenda tebal tersebut.
Bidan-bidan itu bercerita udara panas dalam tenda sudah terasa sejak pagi. Mereka tetap bertahan dalam tenda tanpa alat pendingin ruangan. "Panas sejak jam 8 (pagi). Di sini memang hawa panas," ujar salah satu bidan bernama Putri Fatmawati.
Bidan-bidan itu mengaku selalu kepanasan berada dalam tenda tersebut. "Duduk begini saja kita panas," ujar bidan lain yang berdiri di samping Putri.
Bidan itu bercerita mereka bercucuran keringat terus menerus ketika berdiri selama 1-2 jam saat menangani pasien melahirkan di tenda tersebut. Bidan tersebut menggunakan istilah "keringat biji" untuk menggambarkan gumpalan keringat membasuh tubuh mereka saat menangani persalinan di tengah udara panas dalam tenda tersebut.