"Jangan jadikan kuil ini panggung pribadimu. Orang-orang seperti ini menunjukkan rasa tidak hormat dan jika kamu tidak bisa memahami budaya, jangan datang ke situs bersejarah," netizen itu menambahkan.
Setelah ditelusuri, diketahui kelompok itu dipimpin oleh pemimpin program Maori Media di Auckland University of Technology (AUT), Tangaroa Paul. Ia memiliki latar belakang di bidang kajian Maori dan gender masyarakat adat, Kapa Haka, seni pertunjukan, dan media.
Setelah mendapat kecaman, Paul beberapa kali menyampaikan permintaan maaf melalui platform X. Ia mengaku menikmati kunjungannya ke Jepang, tetapi menyadari telah melakukan kesalahan.
"Saya tahu kata-kata permintaan maaf saya mungkin tidak akan pernah cukup, tetapi tindakan mungkin. Saya akan mengakui ketidaktahuan dan kesalahan saya, dan akan memastikan saya tidak mengulanginya lagi," kata Paul.
Paul kemudian menegaskan bertanggung jawab penuh atas aksinya yang dinilai menyinggung budaya Jepang, masyarakat, dan tempat-tempat suci. Ia mengatakan telah memahami kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.