"Karena kadang udah ambil uang dari kita tapi nggak bertanggung jawab kalau ketika ada kehilangan atau kerusakan. Beberapa kali di Pahlawan pelindung knalpotku pecah tapi tidak diganti," imbuhnya.

Ia pun mengaku akan lebih senang jika parkir di Jalan Pahlawan gratis, karena hal itu juga dinilai bisa meningkatkan pemasukan UMKM.

"Toh itu kan sebenarnya bukan lahan parkir dan aku yakin orang banyak cuma beli sebentar dan pergi," ucapnya.

Hal senada dikatakan pengunjung asal Purworejo, Hani (26). Ia mengaku terkejut dengan tarif parkir di Kota Semarang. Menurutnya, tak ada penertiban yang dilakukan oleh Dishub sehingga parkir liar merajalela.

"Aku pernah beli jajan di Jalan Pahlawan ditarik parkir Rp 3 ribu, pas lagi weekend malah Rp 5 ribu. Padahal aku cuma beli siomay Rp 7 ribu," keluh Hani.

"Udah gitu nggak dibantu keluar motornya. Jadi mereka cuma mau ambil duitnya tapi nggak bertanggung jawab," lanjutnya.

Ia mengaku sudah sering menjadi korban tarif parkir ngepruk tersebut. Hani juga menduga hal itu terjadi karena motornya bernomor polisi bukan dari Kota Semarang.

"Pelatku kan AA, bukan H, mungkin karena itu jadi sering ditarik parkir mahal. Aku jadi kapok jajan di Jalan Pahlawan," tuturnya.

Menyiasati hal itu, Hani mengaku sering memarkirkan motornya di Kantor Gubernur Jateng atau di minimarket yang tak ditarik biaya parkir.

"Aku jadi menghindari sih, kalau nggak kadang parkir dulu di Alfamart terus jalan kaki, biar nggak ditarik parkir," ungkapnya.