“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi Bio Farma untuk terus memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Melalui optimalisasi pemanfaatan Free Trade Agreement (FTA), kami berupaya membuka peluang pasar yang lebih luas, memperkuat kemitraan strategis, serta meningkatkan kontribusi ekspor produk kesehatan Indonesia,” ujar Fitri.

Fitri menambahkan bahwa pengembangan pasar internasional akan terus didorong melalui inovasi, peningkatan kualitas produk, serta penguatan kolaborasi lintas negara untuk mendukung pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan.

“Kami berharap produk kesehatan Indonesia tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan kesehatan dan meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan dunia,” tambah Fitri.

Sejalan dengan pengembangan pasar internasional, Bio Farma terus memperkuat kapabilitas dan penguasaan teknologi untuk mendukung kebutuhan kesehatan nasional. Salah satu diantaranya adalah Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat produksi Bio Farma yang pengembangannya mencakup kerja sama riset, transfer teknologi, uji klinis, serta evaluasi regulator hingga memperoleh persetujuan pemasaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pengembangan Bio-TCV mencerminkan upaya Bio Farma untuk memperkuat penguasaan teknologi konjugasi serta meningkatkan kapasitas produksi vaksin nasional. Upaya tersebut disertai komitmen untuk menjaga ketersediaan produk secara berkelanjutan, memperluas akses, serta menghadirkan vaksin berkualitas dengan harga yang kompetitif. Penerimaan masyarakat juga didukung melalui kolaborasi dengan organisasi profesi kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi, serta edukasi berbasis bukti ilmiah.