Pengembangan lainnya adalah Bio-RV, vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi Bio Farma dengan Murdoch Children’s Research Institute (MCRI), yang telah memperoleh Nomor Izin Edar dari BPOM pada 2 September 2026. Pengembangannya melibatkan penelitian, uji praklinis dan klinis, alih teknologi, serta penyiapan manufaktur di Indonesia melalui kerja sama dengan akademisi nasional dan mitra global.

Bio-RV membuka peluang perlindungan terhadap penyakit akibat rotavirus sejak dini. Penguasaan proses pengembangan dan manufaktur vaksin ini di dalam negeri diharapkan dapat memperkuat ketersediaan dan keberlanjutan pasokan vaksin, sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk impor. Pengembangan Bio-TCV dan Bio-RV menunjukkan bagaimana kolaborasi dan penguasaan teknologi diarahkan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat serta memperkuat kemampuan industri vaksin nasional.

Dalam penyelenggaraan TEI ke-41, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menargetkan nilai transaksi perdagangan mencapai 17,5 miliar dolar AS, meningkat dari target tahun sebelumnya sebesar 16,5 miliar dolar AS. Ia mengapresiasi kontribusi eksportir dan seluruh pihak yang mendukung pertemuan produk nasional dengan pembeli internasional.

“Kami berharap capaian transaksi dagang Trade Expo Indonesia sesuai target, bahkan mudah-mudahan melebihi target,” kata Budi.

Sebagai BUMN life science yang merupakan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, Bio Farma berkomitmen untuk memperkuat daya saing global sekaligus mendukung kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional. Penguatan tata kelola, pengembangan kapasitas dan inovasi, serta kolaborasi yang menghubungkan riset, produksi, distribusi, dan layanan kesehatan menjadi bagian dari arah transformasi perusahaan. Melalui langkah tersebut, Bio Farma terus berupaya mendukung akses, ketersediaan, dan keberlanjutan produk serta layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.