NADIKABAR.COM — Akademisi sekaligus Peneliti Senior Transisi Bersih, Aimatul Yumna menyoroti klaim penghematan devisa dari penerapan program mandatori biodiesel. Menurutnya, perhitungan manfaat biodiesel tidak bisa hanya dihitung dari berkurangnya impor solar.
Yumna mengatakan, penggunaan biodiesel memang telah menekan impor solar dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, nilai penghematan dari berkurangnya impor solar disebut mencapai Rp 153 triliun.
"Jadi memang ada penghematan impor solar dalam beberapa waktu dari tahun 2015-2024. Penghematannya cukup signifikan, misalnya pada tahun 2024 dapat kita menghemat sebesar Rp 153 triliun, itu luar biasa penghematannya," kata Yumna dalam acara Peluncuran Kajian Bersama "Menakar Ambisi dan Realitas: Masa Depan Biofuel Indonesia dalam Kerangka Transisi Energi yang Berkeadilan" di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (29/9/2026).
Namun, menurutnya terdapat biaya lain yang perlu diperhitungkan, yakni potensi devisa yang hilang karena minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) digunakan di dalam negeri dan tidak diekspor. Selain itu, terdapat subsidi yang harus dikeluarkan untuk menjalankan program biodiesel.