Menurut para pelajar, ungkapan tersebut merupakan bentuk sindiran terhadap kepolisian, yang sempat mencoba menyusup ke dalam percakapan media sosial yang digunakan oleh para pengunjuk rasa untuk berkoordinasi. Tangkapan layar percakapan di Snapchat yang memuat ungkapan tersebut mulai beredar pada awal Oktober.

Dalam percakapan itu, seorang pengguna bernama Mamadou meminta untuk dimasukkan ke dalam sebuah grup dengan berkata 'Hai, demi Tuhan, ini adalah kegelapan. Kapan blokadenya, wallah, kawan?'. Pesan tersebut juga menyertakan emoji bendera Aljazair.

Para pelajar mengatakan pesan itu dikirim oleh petugas polisi yang menyamar, yang mencoba menyusup ke dalam percakapan mereka dengan menggunakan campuran bahasa Arab dan bahasa gaul yang terasa janggal. Klaim ini belum diverifikasi, dan pihak berwenang Prancis belum memberikan pernyataan apa pun.

Youssef El Chazli, lektor kepala bidang sosiologi Arab dan Mediterania di Universitas Paris 8 Vincennes, Saint-Denis, mengatakan ungkapan tersebut 'memperkuat citra polisi Prancis yang tidak memahami realitas lapangan dan penuh dengan stereotip'.

"Stereotip semacam itu tampaknya secara tidak proporsional menyasar kaum muda keturunan Arab dan Afrika. Ini menjadi contoh lain betapa lembaga negara tampak tidak memahami dinamika gerakan yang sedang berlangsung saat ini," ujar El Chazli.